Lari atau jalan kaki ? Mungkin pertanyaan inilah yang sering menjadi perdebatan oleh banyak pecinta olahraga kardio. Padahal keduanya adalah cara yang baik untuk membuat tubuh tetap sehat dan bugar.

Lari dan jalan kaki adalah olahraga kardio yang sangat baik untuk dilakukan. Keduanya dapat membantu menurunkan berat badan, meningkatkan tingkat energi, menurunkan tekanan darah dan kolesterol, memperbaiki kualitas tidur, serta mengurangi resiko penyakit berbahaya seperti kanker, diabetes, dan serangan jantung. Tapi, apakah benar bahwa salah satu dari olahraga tersebut ada yang lebih baik dari yang lainnya?

Di samping olahraga lari yang kini sedang menjadi tren di Indonesia, beberapa ilmuwan mengatakan aktivitas jalan kaki sebetulnya lebih baik daripada olahraga lari. Ko bisa? Apa alasannya?

1. Lebih mudah

Jalan kaki adalah aktivitas yang bisa dilakukan hampir di semua tempat dan tidak membutuhkan persiapan yang maksimal. Jalan kaki dapat mengeluarkan keringat lebih sedikit ketimbang lari. Jadi, brosist bisa melakukannya di sela-sela kegiatan apapun.

Menurut Stephany Blozy, exercise sciene expert dan pemilik dari Fleet Feet of West Hartford, jalan kaki 30 menit di waktu istirahat makan siang bisa membuat kita sehat tanpa membuat kita berkeringat dan harus segera mandi setelahnya.

2. Terlalu lama lari tidak baik

Salah satu manfaat lari adalah meningkatkan kesehatan kardiovaskular. Meski begitu, hal tersebut sangat bergantung pada kondisi dan kemampuan masing-masing individu. Karena, bagi mereka yang memiliki sejarah penyakit kardiovaskular, lari justru bisa meningkatkan denyut jantung dan memicu terjadinya serangan jantung.

Lari jarak jauh bisa melepaskan protein tertentu pada tubuh yang bisa menimbulkan efek merusak pada jantung. Hal tersebut diungkapkan oleh Clinical Director of Profesional Physical Therapy di New York, Natalie Lovitz.

Jadi, bagi mereka mengubah aktivitas berlari menjadi jalan kaki bisa membuat mereka tetap sehat.

3. Persendian terasa lebih ringan

Jalan kaki lebih ringan bagi sendi-sendi dalam tubuh ketimbang berlari dengan jarak yang jauh. Jadi, jika brosist mengalami sakit atau kaku, cobalah aktivitas low-impact seperti jalan kaki.

Dengan demikian jalan kaki masih membuat otak melepaskan hormon endorfin yang disebut sebagai manfaat terbesar dari olahraga kardiiovaskular. Endorfin adalah senyawa kimia yang bisa menimbulkan rasa senang bagi semua orang yang melakukannya.

4. Meningkatkan sistem kekebalan tubuh

Olahraga seperti jalan kaki selama 20-30 menit bisa menguatkan sistem imun tubuh seseorang. Sedangkan olahraga dengan intentistas yang tinggi seperti lari justru bisa menimbulkan efek sebaliknya dan kurang bagi sistem imun.

Namun, bukan berarti lari mempunyai dampak buruk bagi sistem imun tubuh. Daripada lari, lebih baik memberi keseimbangan antara olahraga berat dan olahraga low-impact seperti jalan kaki.

5. Jalan kaki lebih mudah untuk konsistensi

Jalan kaki adalah aktivitas yang hampir semua orang bisa lakukan. Jadi, jalan kaki adalah salah satu olahraga yang tepat bagi pemula untuk memulai rutinitas olahraganya.

Menghindari kelelahan ketika olahraga adalah cara yang sangat sulit. Namun, jalan kaki cenderung lebih mudah dipertahankan dan menjadi cara yang tepat bagi orang untuk tetap konsisten

Pada intinya adalah bagaimana kita menyesuaikan kemampuan dan kekuatan diri kita untuk aktif bergerak. Dan yang paling penting adalah menggunakan sepatu yang layak untuk bejalan dan berlari. Brosist bisa klik text ini untuk mencari rekomendasi sepatu yang layak dipakai berjalan dan berlari.***


Rezkyanto Pramadhika

𝐒𝐡𝐨𝐞𝐬 𝐒𝐩𝐞𝐚𝐤 𝐋𝐨𝐮𝐝𝐞𝐫 𝐓𝐡𝐚𝐧 𝐖𝐨𝐫𝐝𝐬